HIDUP DARI SABDA
Membaca dan Merenungkan Kitab Suci Secara Kontemplatif
Wilfrid STINISSEN; 14 x 21 cm; 148 hlm; Rp27.500,00
Pengantar oleh
Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm
Dewasa ini kita saksikan adanya suatu kehausan akan Sabda Allah, yang terkandung dalam Kitab Suci. Banyak orang beriman yang mulai dengan sungguh-sungguh membaca Kitab Suci setelah hati mereka tersentuh oleh kasih Allah. Sesudah hati mereka tersentuh oleh kasih Allah—biasanya lewat suatu pengalaman Roh Kudus dalam pelbagai macam bentuknya—hati mereka semakin merindukan Allah serta ingin mengenalnya dengan lebih dekat dan lebih baik. Karena lewat pengalaman itu Yesus menjadi sungguh-sungguh hidup, Sabda-Nya juga menjadi hidup.
Para Bapa Gereja mengatakan bahwa Kitab Suci adalah Surat Cinta Allah kepada umat-Nya, kepada kita semua. Oleh sebab itu, banyak orang yang mula-mula berusaha membaca Kitab Suci, namun sulit mengertinya, atau Kitab Suci itu tidak berbicara kepada mereka. Namun, bila satu kali hati mereka disentuh oleh Allah, Kitab Suci menjadi hidup dan orang ingin terus mendalaminya. Dewasa ini banyak sekali umat Katolik yang hatinya telah dijamah oleh Allah, entah melalui Retret Awal atau dengan cara lain, yang ingin mendalami Kitab Suci. Bagi banyak orang, Kitab Suci telah menjadi makanan mereka sehari-hari.
Walaupun Sabda Allah adalah ”Sabda hidup yang kekal”, seperti yang dikatakan Petrus kepada Tuhan Yesus (Yoh 6:68), namun tidak selalu mudah dimengerti dengan baik dan tepat. Bagi sebagian umat yang dengan hati sederhana dan iman yang hidup membaca Kitab Suci serta meresap-resapkannya, Kitab Suci adalah benar-benar Sabda Tuhan yang mengandung hidup kekal. Perlahan-lahan hidup mereka telah diresapi dan diubah oleh daya Kitab Suci itu sendiri, sebab seperti yang difirmankan Tuhan: ”Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes 55:10–11). Dengan membaca Kitab Suci secara teratur, dengan meresap-resapkannya dalam iman, Roh Kudus membantu mereka untuk menangkap artinya dan sedikit demi sedikit mereka pun diubah dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus sendiri.
Namun, tidak semua orang dapat membaca seperti itu, sehingga mereka membutuhkan ”alat bantu” untuk dapat membaca Kitab Suci dengan berbuah. Untuk keperluan inilah buku HIDUP DARI SABDA, karangan Rm. Wilfrid Stinissen, seorang karmelit dari Belgia, diterbitkan. ”Hidup Dari Sabda” membantu kita untuk melihat Kitab Suci dalam artinya yang lebih dalam, bukan hanya sekadar dilihat dari artinya secara harfiah, atau hanya melihatnya dari segi pandang ilmiah saja, yang walaupun sangat penting, sesungguhnya hanya menghantar orang kepada pintu Sabda Allah saja. Orang harus memasuki Sabda Allah itu sendiri dalam iman yang hidup, sehingga Sabda Allah benar-benar menjadi Sabda Kehidupan, yang menyebabkan orang dapat bertumbuh dan berkembang dalam pengenalan sejati akan Tuhan serta menghasilkan buah-buah kebenaran yang melimpah. Dengan kata lain melalui buku ini kita diajak untuk membaca Kitab Suci secara kontemplatif, mendengarkan Tuhan yang berbicara lewat sabda tertulis itu dan sampai kepada perjumpaan pribadi dengan Allah sendiri, semakin hari semakin mendalam. Semoga buku ini bermanfaat bagi banyak orang serta membantu mereka untuk perjumpaan yang lebih mendalam lagi dengan Tuhan.
Terima kasih kepada Bapak Anton Villanueva yang telah menerjemahkan buku ini. Juga terima kasih kepada Sr. Yoannita, P.Karm dan Sr. Marietta, P.Karm yang telah membantu menyempurnakan terjemahan tersebut, sehingga sekarang dapat dijangkau banyak orang. Terima kasih pula kepada Penerbit Obor yang telah berkenan menerbitkannya dan menjadikannya terjangkau untuk banyak umat. Tuhan memberkati Anda semua.